mengenai standar hidup keluarga

1.1  Standar Hidup

Standar hidup menunjuk ke kualitas dan kuantitas barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia bagi orang. Biasanya diukur oleh pendapatan nyata per orang, meskipun beberapa pengukuran lain dapat digunakan; contohnya adalah ketersediaan barang (seperti jumlah kulkas per 1000 orang), atau pengukuran kesehatan seperti harapan hidup.

Ide standar ini dapat berlawanan dengan kualitas hidup, yang memperhitungkan tidak hanya standar hidup material, tetapi juga faktor subyektif lainnya yang menyumbang bagi kehidupan seseorang, seperti hiburan, keamanan, sumber budaya, kehidupan sosial, kesehatan mental, dll. Cara yang lebih rumit untuk menghitung kesejahteraan harus digunakan untuk membuat keputusan semacam itu, dan seringkali hal ini bersangkutan dengan politik, dan oleh sebab itu kontroversial.

Namun, masih tetap ada masalah meskipun hanya dengan menggunakan jumlah rata-rata untuk membandingkan standar hidup material, berlawanan dengan, misal, indeks Pareto. Standar hidup mungkin juga hal yang subyektif. Sebagai contoh, negara dengan kelas atas yang sangat kecil yang sangat kaya dan kelas rendah yang sangat besar dan sangat miskin dapat memiliki rata-rata pendapatan yang tinggi, meskipun kebanyakan penduduk memiliki “standar hidup yang rendah”. Ini mencerminkan masalah pengukuran kemiskinan, yang juga cenderung relatif.

 

1.2  Standar Hidup dan Kesejahteraan

Keluarga menilai tingkat kesejahteraan mereka selama dan sebagai akibat krismon. Hasilnya sungguh mengejutkan karena berbeda dengan anggapan umum telah terjadinya kemerosotan kesejahteraan dan standar hidup akibat krismon, 87% responden menyatakan standar hidup mereka tidak berubah (tetap) atau bahkan membaik, dan yang melaporkan memburuk hanya 13%. Mengenai kualitas hidup, 83,9% responden menyatakan memadai (69,4%) atau lebih dari memadai (14,5%), yang berarti bahwa keluarga yang merasakan kualitas hidup mereka tidak memadai hanya 16,1%. Tentang kualitas hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan, 90,7% menyatakan memadai atau lebih dari memadai, sedangkan tentang pemeliharaan kesehatan, 85% menyatakan memadai dan 4% menyatakan lebih dari memadai.

 

1.3  Keluarga-Islam Terbiasa Dalam Standar Minimal

Tidak semua orang islam berpola hidup yang islami  dan tidak jarang kita temui dimana negara yang mayoritas bukan muslim tetapi sering mengedepankan nilai-nilai yang islami contoh sederhana adalah kebersihan , bukankah kebersihan sebagian dari iman, sekarang lihatlah sekeliling kita  dimana nilai tadi belum sepenuhnya kita terapkan begitu juga dengan bagaimana menghargai waktu  (disiplin), menepati janji , menghargai orang lain dan seterusnya karena kita memang telah terbiasa dengan standar minimal atau paling tidak standar menengah belum sampai maksimal dan ini harus diakui dimana hal yang paling sering dijadikan contoh adalah dalam bersedekah yaitu jika kita mempunyai uang dikantong beberapa lembar uang 100 ribu, 50ribu, 10 ribu, 5 ribu dan seribu, lalu angka yang mana kita pilih dalam bersedekah ? sangat normatif dan situasional bukan.
Didalam beberapa hal kita juga sering seperti burung beo yang suka bersifat latah, apakah sama ketika melihat keagungan Allah seperti keajaiban alam sambil berseru "Subhanallah" dengan ketika kita kaget lalu berucap "Astagfirullah" , tentu tidak karena yang pertama terucap dengan kesadaran penuh sedangkan yang kedua hanya karena latah tetapi karena kita terbiasa dengan standar minimal maka kita akan berujar "....yah lebih baik dari pada ngucapin yang ngga-ngga apalagi yang jorok " . Didalam pergaulan sehari-hari saya sering mendengar kata-kata " Masya Allah", "Astagfirullah" diucapkan oleh non muslim , mungkin karena mereka sering mendengar kata ini di ucapkan pada seuatu kejadian tertentu sehingga menjadi kebiasaan. Ada pertanyaan menggelitik dari kejadian diatas yaitu apakah sama kebaikan tanpa sengaja dengan keburukan tanpa sengaa ? mungkin sama walau secara kasat mata tidak artinya sebenarnya tidak ada niat berbuat baik atau buruk, bukankah setiap amal dimulai pertama kali dari niatnya seperti arang yang tidak makan dan minum seharian karena tidak ada makanan dan minuman dan orang yang berpuasa hanya dibedakan oleh niatnya. Rasulullah bersabda Dari Amirul Mu'minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.(HR Bukhari Muslim)
Dalam Surat Ali Imran ayat 110 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman " Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik ". Penegasan Allah bahwa umat Islam adalah umat terbaik adalah berarti bahwa umat islam dituntut untuk melakukan yang terbaik pula dengan standar maksimal yang kita miliki, karena tidak mungkin yang terbaik selalu terposisi  dengan tangan yang terus berada dibawah.

1.4  Pasal Mengenai Standar Hidup

Menurut pasal 11 (1) Perjanjian, Negara “mengenali hak setiap orang untuk memperoleh standar hidup yang layak bagi dirinya sendiri dan keluarganya, termasuk pangan, pakaian, dan tempat tinggal, juga peningkatan kondisi-kondisi hidup yang berkelanjutan.” Hak asasi manusia atas tempat tinggal yang layak, yang dengan demikian ditarik dari standar hidup yang layak, adalah sumber penikmatan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya.

 

 

1.5  Menjaga Standar Hidup Keluarga Melalui Asuransi

Menjaga standar hidup keluarga dari berbagai resiko kehidupan yang terjadi pada sumber income. Bila terjadi resiko kecelakaan, seperti kematian, kecelakaan, terkena sakit kritis, cacat total. Keluarga masih tetap melanjutkan kehidupan dengan sebagaimana mestinya tanpa harus menjual asset-aset yang telah terbentuk sebelumnya. Dalam hal ini uang pertanggungan unit link yang diterima dapat langsung diinvestasikan kembali untuk kemudian dapat diambil hasilnya untuk memenuhi kehidupan selanjutnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s